Rabu, 15 April 2015

Book Review : Anis Matta: Mencari Pahlawan Indonesia


Risau, mungkin itu yang melatarbelakangi lahirnya tulisan-tulisan dengan judul di atas. Risau karena bangsa ini mengalami yang disebut kelangkaan jumlah pahlawan, apakah karena rahim-rahim wanita kini telah menjadi pelit untuk melahirkan pahlawan-pahlawan di negeri ini?

Bagi kita yang senantiasa mengikuti jalannya serial kepahlawanan yang ditulis oleh Anis Matta untuk Tarbawi, kita akan dapat menemukan sebuah panduan atau manual book untuk mencari pahlawan di negeri ini. Pikiran kita akan digiring hingga akhirnya kita dapat berkata, ”aha!”. Kita menemukan apa yang menjadi pertanyaan kita di awal ketika membaca buku ini.
Buku ini di awali dari sebuah pertanyaan, Siapa Pahlawan? Pahlawan bukanlah orang suci yang diturunkan dari langit ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus tercatat dalam buku sejarah atau dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka adalah manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang disekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung, karya kepahlawanan adalah tabung jiwa dalam masa yang lama… (Pengantar Anis Matta)
Dari tesis ini kita akan dapat mengatakan bahwa siapa saja akan dapat menjadi pahlawan termasuk kita yang membawa buku ini. Lalu, dari mana mereka datang? Anis Matta melanjutkan, Mereka muncul di saat-saat sulit. Mereka datang untuk memikul beban yang tidak dipikul manusia di zamannya. Mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. (Naluri Kepahlawanan, Hal 4).
Para pahlawan menyadari betul bahwa Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk memancing “naluri kepahlawan”- nya muncul. Bagi mereka yang tidak memiliki naluri ini, tantangan ini dianggap beban berat, mereka akan menghindari dan menerima dengan sukarela posisi kehidupan yang tidak terhormat. (Naluri Kepahlawanan, Hal 4).
Dalam buku ini, Anis Matta juga memberikan semua perangkat yang diperlukan untuk menjadi pahlawan, apa saja akhirnya yang mendukung naluri kepahlawanan, karena naluri saja tidak cukup untuk menjadikan kita pahlawan. Anis Matta mengatakan, Jika Naluri Kepahlawanan adalah akar pohon kepahlawanan, maka Keberanian adalah batang yang menegakkannya. Tidak ada Keberanian yang sempurna tanpa Kesabaran, karena kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya keberanian itu akan bertahan dalam diri seseorang. Dan Pengorbanan adalah bahan bakar dari ketiga hal di atas, Naluri Kepahlawanan, Keberanian dan Kesabaran…
Lalu, apa lagi stimulus yang diperlukan untuk menjadikan diri kita pahlawan, jawabannya adalah kebaikan. Mengapa? Kebaikan adalah medan kompetisi bagi para pahlawan yang akan mengeksploitasi potensi-potensi mereka. Dengarkan apa yang ada dalam pikiran para pahlawan, Setiap kali mereka menyelesaikan satu unit amal, dalam tempo yang ringkas dan cepat, dengan kualitas maksimum, dan dengan manfaat sosial sebesar-besarnya, barulah mereka dapat menikmati rentang waktu itu. Kebahagian mereka terletak pada selesainya unit-unit amal shalih yang mereka kerjakan dengan cara yang sempurna.
Langkah-langkah untuk menjadi pahlawan adalah Pertama adalah optimisme, optimisme adalah titik tengah realismen dan idealisme. Optimisme mengajarkan bahwa kita harus idealis dalam menjalani kehidupan ini, namun kita juga harus sadar bahwa kita hidup di dalam dunia yang real (nyata) yang terkadang jauh dari nilai-nilai ideal.
Kedua, Mengambil Momentum, Seseorang tidak menjadi pahlawan karena melakukan pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya, kepahlawanan memiliki momentumnya. Yang perlu kita lakukan adalah mempercepat saat-saat kematangan. Yaitu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin potensi dalam diri kita, mengolahnya dan kemudian mengkristalisasikannya. Dengan ini kita memperluas peluang sejarah atau mengantar kita ke pintu sejarah.
Ketiga, Menjaga Kegembiraan Jiwa, untuk terus mampu berjalan jiwa ini perlu dijaga agar tetap dalam kondisi gembira. Kegembiraan adalah sumber energi bagi jiwa.
Keempat, Terus Menggali Keunikan Diri, Sejarah hanya mencatat karya-karya yang berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya. Sejarah tidak mencatat pengulangan-pengulangan. Kecuali untuk karya di bidang sama dan memiliki kualitas yang tidak berbeda. Menjadi unik adalah beban psikologis yang tidak semua orang mampu menanggungnya. Ancamannya adalah isolasi, keterasingan dan akhirnya adalah kesepian. Jika engkau bersedia menerima takdir kesepian sebagai pajak bagi keunikan, maka niscaya masyarakat juga akan membayar harga yang sama : kelak mereka akan merasa kehilangan.
Kelima, terus bergerak Menuju Kesempurnaan, kesempurnaan adalah obsesi seorang pahlawan. Bergerak menuju sempurna adalah bergerak menuju batas maksimum, “Bagaimana mengetahui batas maksimum itu…?” Batasan itu bersifat psikologis, yaitu semacam kondisi psikologis tertentu yang dirasakan seseorang dari suatu proses maksimalisasi penggunaan potensi diri, dimana seseorang memasuki keadaan yang oleh Al Qur’an disebut sebagai “menjelang putus asa”.
Keenam, Siap Dengan Kegagalan, pertanyaannya Bagaimana mereka mampu melampaui kegagalan-kegagalannya dan merengkuh takdirnya sebagai pahlawan…? Jawabnya adalah, Mereka memiliki mimpi yang tidak pernah selesai, mereka memiliki semangat pembelajaran yang konstan, dan kepercayaan terhadap waktu, mereka menyadari bahwa segala sesuatu memiliki waktunya.
Ketujuh, Kekuatan Imajinasi.
Di akhir buku ini Anis Matta mengatakan bahwa jangan pernah menanti kedatangan mereka atau menggodanya untuk datang ke sini. Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di sini, di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau negeri ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah. (hal. 228)

sumber : http://www.empatpilarkebangsaan.web.id/berita/anis-matta-mencari-pahlawan-indonesia.html
link Buku : https://hermanangkola.files.wordpress.com/2012/11/mencari-pahlawan-indonesia_-anis_matta.pdf

SEMANGAT REVOLUSI


Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Misalnya revolusi industri di Inggris yang memakan waktu puluhan tahun, namun dianggap 'cepat' karena mampu mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat —seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dan majikan— yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru. Revolusi senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun.
Revolusi Nasional Indonesia  adalah Revolusi Nasional Indonesia adalah sebuah konflik bersenjata dan pertentangan diplomasi antara Republik Indonesia yang baru lahir melawan Kerajaan Belanda yang dibantu oleh pihak Sekutu, diwakili oleh Inggris. Rangkaian peristiwa ini terjadi mulai dari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada 29 Desember 1949. Meskipun demikian, gerakan revolusi itu sendiri telah dimulai pada tahun 1908, yang saat ini diperingati sebagai tahun dimulainya kebangkitan nasional Indonesia.
Revolusi bukan hanya kekerasan bersenjata, tetapi menurut pengertian yang sebenarnya revolusi adalah menghendaki perubahan. Perubahan perubahan perubahan perubahan perubahan dan perubahan. Perubahan apa yang ingin dikehendaki, itu seharusnya sesuai dengan kehendak konstitusi dan cita – cita kemerdekaan yaitu menjadikan Negara yang berdaulat, adil, dan makmur.
Indonesia sendiri bahkan dikenal ada pahlawan revolusi yang menjadi korban keganasan G30S/PKI. G30S/PKI yang sampai sekarang belum jelas sejarah dan kebenarnya. Siapakah sebenarnya dalang sebenarnya dari pemberontakan tersebut. Yang tidak habis pikir, kenapa gerakan sebenar dan semasif ini dapat ditumpas dalam waktu yang singkat.
Sudahlah, cukup menceritakan sejarah kelam masa lalu bangsa kita ini, sekarang kita menatap masa depan yang lebih baik demi kemajuan bangsa ini. Dimulai dari hal yang kecil, seperti merubah kebiasaan pada diri kita masing – masing. Sudah berbuat apa kita hari ini? Produktifkah?  Bergunakah? Karena sebaik – baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.
Era reformasi dengan semuanya yang serba digital, semua informasi berjalan dengan sangat cepat. Seluruh dunia dapat berkomunikasi dengan sangat mudah. Sudah seharusnya perbaikan dapat berjalan dengan sangat cepat. Kita tinggalkan kapitalis, sosialis, dan apapun itu. Kembalilah ke fitrah kita, demokrasi pancasila. 5 sila yang sangat mendasar sebagai dasar filosofis dan ideologis bangsa kita. Jika kita amalkan dengan baik dalam penerapan dan perbuatan. Bukan tidak mungkin perubahan bangsa dan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia bisa terlaksana.
Semua elemen, masyarakat, LSM, maupun pemerintah mampu untuk bersinergi dalam membangun dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh warga Negara. Gerakan cepat ini yang akan sangat diperlukan terutama saat ini pada saat posisi pemerintahan yang sangat goncang.
Revolusi = perubahan yang cepat untuk menuju lebih baik.
Semoga bisa terwujud!!!!


Kamis, 18 September 2014

Sinopsis Buku 'MENGAPA AKU MENCINTAI KAMMI"


Judul Buku:
Mengapa Aku Mencintai KAMMI
Penulis:
Imran Rosyadi, Evie Fitria, Aji Kurnia Dermawan (Izzatul Ikhwan)
Penyusun:
Eko Susanto
Penerbit:
Penerbit Muda Cendikia, Bandung
Cetakan:
Maret 2010


Sinopsis:

Bergabung di KAMMI bukanlah pilihan rasional, lebih kental sisi emosional. Ada banyak cita-cita tinggi yang hendak diwujudkan dan dipersembahkan kepada KAMMI. Maka cinta dan cita-cita tinggi itulah yang membangun semangat ‘bergerak’.

Cintalah yang membuat akh Imron menulis serial “Mengapa Aku Mencintai KAMMI”, yang kemudian dijadikan sebagai judul buku ini. Cintalah yang membatalkan rencana akh Yuli terbang ke London. Dan masih banyak ‘kisah cinta’ lainnya. Saya percaya, banyak yang mencintai KAMMI di KAMMI.

Tak perlu kader KAMMI diajarkan tentang cinta. Tapi rasanya pantas cinta kepada KAMMI digelorakan. Cinta bukan sebuah ajaran ataupun ilmu yang bisa dibuat konsepnya oleh kaderisasi. Cinta terhadap KAMMI merupakan ungkapan perasaan. Perlu teladan dari senior.

Dan pengorbanan bukanlah ‘ritual’ kewajiban sebagai anggota organisasi. Pengorbanan di KAMMI haruslah menjadi ‘ritual’ cinta. Layaknya cinta seorang gadis yang melepas kekasihnya pergi mencari ilmu di negeri jiran. Cinta yang ‘hidup’ dan menghidupi sebuah gerakan untuk berkorban tanpa penyesalan dan keterpaksaan. Bukan kata-kata cinta yang lahir dari kewajiban ataupun sekedar ‘amanah’.

Sumber:
http://kammiftundip.blogspot.com/2012/10/mengapa-aku-mencintai-kammi.html

Kamis, 31 Juli 2014

Hari Raya Idul Fitri dan Silaturrahmi

oleh: M Nasir

Kebersamaan adalah hal terindah yang dimiliki oleh setiap insane didunia ini. Sebagai makhluk social, manusia membutuhkan manusia lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Suasana hari raya Idul Fitri ini dimanfaatkan oleh hampir seluruh umat Muslim diseluruh dunia. Hari raya dirayakan dengan meriah. Kue lebaran segala macam bentuk dan cita rasa, baju baru,  hidangan khas lebaran, dan segala macam pernak pernik lainnya seakan selalu menghiasi lebaran pada tiap tahunnya.
Di Indonesia, selain pernak pernik diatas, juga berlaku tradisi mudik, karena mayoritas penduduknya adalah perantau. Warga Suku Jawa, Suku Minangkabau, Batak, dan Bugis adalah sebagian besar penduduk yang melaksanakan mudik tiap tahunnya dari kota – kota merantau ke kampung – kampung asalnya.
Hal – hal diatas tidak dapat dilepaskan dari lebaran tiap tahunnya. Kekeluargaan yang terjalin masih sangat erat pada setiap penduduk di Indonesia daripada yang terjadi pada bangsa barat. Silahturahmi antar keluarga dan sesama menjadi sangatlah penting bagi bangsa Indonesia. Dapat dilihat pada perayaan lebaran di kampung – kampung sangat meriah, saling mengunjungi dan bercanda ria menunjukkan keakraban yang amat sangat.
            Al Qur’an surat Ar- Ra’d ayat 21 menjelaskan sebagai berikut:

tûïÏ%©!$#ur tbqè=ÅÁtƒ !$tB ttBr& ª!$# ÿ¾ÏmÎ/ br& Ÿ@|¹qムšcöqt±øƒsur öNåk®5u tbqèù$sƒsur uäþqß É>$|¡Ïtø:$# ÇËÊÈ

21.  Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan[771], dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.          
 [771]  yaitu mengadakan hubungan silaturahim dan tali persaudaraan.
                Ayat diatas menjelaskan bahwa sesungguhnya silaturrahmi itu merupakan penghubung bagi seluruh insane Allah SWT. Allah SWT menciptakan banyak suku dan ras bertujuan supaya saling menjalin silaturrahmi sebagai wujud cintanya terhadap seluruh ciptaan Allah SWT.

            Silaturrahmi pada hari raya Idul Fitri merupakan bentuk cintanya manusia kepada sesamanya. Namun, momentum hari raya janganlah hanya tradisi belaka. Momentum hari raya sebaiknya merupakan sarana memperbaiki hubungan silaturrahmi antar sesama dan umat Islam diseluruh jagat raya ini. Jika telah timbul rasa cinta antar sesama, semoga umat Islam di sejuruh jagat tidak terdapat perpecahan dan mampu melawan permasalahan – permasalahan umat dewasa ini. 

Selasa, 29 Juli 2014

Lebaran di Indonesia dan Gaza

oleh : M Nasir           

 Kumandang takbir bergema diseluruh pelosok tanah air Indonesia dan seluruh umat Muslim di dunia ini. Uforia kemenangan sangat meriah dirayakan oleh segenap umat Muslim karena telah lulus melewati ujian yang dilaksanakan selama satu bulan penuh. Masjid Mushalla dan pawai obor maupun kegiatan- kegiatan lainnya mewarnai malam takbir. Mercon, kembang api atau yang sejenisnya membuat semarak pesta lebaran di negeri ini.
Ingatkah bahwa saudara kita, umat Muslim Palestina yang berada di jalur Gaza merayakan hari raya dengan ke kekhawatiran akan datang mercon besar yang dapat menghancurkan rumah – rumah mereka bahkan dapat menghilangkan nyawa mereka.
Seperti yang dijelaskan dalam Surat An – Nashr sebagai berikut:
#sŒÎ) uä!$y_ ãóÁtR «!$# ßx÷Gxÿø9$#ur ÇÊÈ |M÷ƒr&uur }¨$¨Y9$# šcqè=ä{ôtƒ Îû Ç`ƒÏŠ «!$# %[`#uqøùr& ÇËÈ ôxÎm7|¡sù ÏôJpt¿2 y7În/u çnöÏÿøótGó$#ur 4 ¼çm¯RÎ) tb%Ÿ2 $R/#§qs? ÇÌÈ
1.  Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
2.  Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
3.  Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.

            Surat diatas menjelaskan bahwa pertolongan Allah SWT bagi sangat nyata, seperti telah dikisahkan pada pembebasan Makkah yang dilakukan okeh Rasulullah SAW beserta para sahabat dan umatnya. Peristiwa pembebasan Makkah ini merupakan titik balik kebangkitan umat Islam, seperti yang digambarkan pada Surat An- Nashr diatas.
            Pada pembukaan UUD NRI 1945 alenia 1 juga dijelaskan “bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Teks pembukaan UUD diatas menjelaskan bahwa kemerdekaan itu merupakan hak segala bangsa diatas dunia ini, setiap bangsa diatas dunia harus perjuangkan oleh seluruh bangsa dan bantuan bangsa lain. Pemerintah Indonesia sebagai pemegang kebijakan seharusnya mampu berbicara banyak dalam permasalahan Gaza.
            Rakyat Indonesia merayakan Hari Raya dengan meriah, pesta dimana mana, baju baru. Saudara se Iman kita di sudut bumi sana merayakan hari Raya dengan Bom, Mortir, dan kekhawatiran akan kehilangan saudara – saudara mereka.