Ada wacana golput (golongan putih, tidak memilih) akan ditangkap. Dulu ketika zaman Soeharto (Golkar segalanya), saya golput, karena semunya sudah diatur. Sekarang saya tidak, karena berharap masih ada lilin menyala di kegelapan.
Semua partai berebut, semua orang saling sikut ingin jadi presiden. Anies Baswedan sangat menggelitik kita dengan pernyataannya, "Korupsi di Indonesia bukan karena banyak jumlahnya, tapi karena orang baik membiarkannya!"
Sekarang semuanya terbuka. Bahkan kita diajak berpartisipasi secara langsung dalam situasi dan kondisi perpolitikan di negeri ini. Jadi, kalau golongan putih (sebagai minoritas) merasa "bahwa memilih itu adalah hak", maka negara "menangkap golput" juga hak. Hehehehe.. Tapi saya tetap tidak setuju golput harus ditangkap.
Kita boleh berbeda pendapat. Sekaranglah saatnya kita ambil bagian. Kita belum tentu juga semulia para caleg itu. Jika orang bodoh memilih menerima serangan fajar dan mengambil amplop (money politic), maka kita sebagai orang yang berpendidikan sudah sepatutnya berperan serta dan menunjukkan siapa kira-kira orang baik dari yang buruk yang tersedia. Kita harus ikut di gerbong perubaha menuju "Indonesia Baik". Sampai menunggu ajal kita tak berperan serta dan terus golput? Lalu kita terus menikmati segala yang ada di Indonesia? Lalu kita sesekali menikmati "sesuatu" dari mereka? Hayooo... Hehehehe..
Secara pribadi, saya sekarang tidak setuju golput, tapi tidak setuju juga golput ditangkap. Tapi lagi, mesti dengan cara bagaimana ketika orang bodoh disuruh memilih atau mencoblos dengan iming-iming uang berhasil, lalu pada orang-orang pintar bagaimana? Denan amplop juga? Tak mungkin. Kalau saya caleg, kepada orang pintar yang saya tawarkan adalah visi-misi program atau jargon "perubahan". Kita bisa menguji para caleg itu dengan cara mengadakan seminar, kemudian mreekomendasikannya kepada publik. Begitulah. (*)
(y)
BalasHapus