Jumat, 02 Agustus 2013

Book Review : MODEL MANUSIA MUSLIM Abad 21

MODEL MANUSIA MUSLIM Abad 21
oleh: Anis Matta 



        Ada sebuah catatan menarik dari pertemuan antara Anis Matta dan Dr. Boyke. Dari beberapa kalimatnya, Dr. Boyke berkata, “Saya baru bertemu ustadz seperti ini. Ternyata dalam Islam ada juga yang seperti ini!” Ungkapan yang terakhir, ada anggapan bahwa seolah-olah Islam hanya mengurusi bagaimana cara orang masuk surga dengan ibadah-ibadah mahdhoh. Islam lebih dari itu, bahkan mungkin di luar bayangan orang-orang yang sudah mengenal Islam sekalipun. Proses pengembangan diri dalam kacamata Islam diilhami akan adanya rekonstruksi (pembangunan ulang) dari manusia-manusia yang berada di zaman pasca keberadaan Rasulullah di medan revolusi peran manusia di dunia. Dalam kondisi perubahan peradaban manusia, diperlukan kekuatan-kekuatan yang dapat mengimbanginya. Konsep-konsep pengembangan diri yang dalam Agama Islam berorientasi pada pembentukan pribadi Muslim yang berkarakter kuat, lahir sebagai “manusia baru” yang membawa pencerahan pada peradaban Islam.
             Buku ini merupakan kumpulan ceramah pengembangan diri yang diarahkan pada pembentukan model manusia Muslim yang bisa menghadapi segala tantangan pada abad ke-21. Buku ini hampir sama dengan buku-buku tentang motivasi, mengenal diri, manajemen waktu, buku-buku lain sejenisnya. Dalam buku ini, Anis Matta mengungkapkan bahwa untuk menjadi manusia Muslim yang bisa diandalkan pada abad ke-21 harus memenuhi tiga kualifikasi, yaitu afiliasi, partisipasi, dan konstribusi. Afiliasi adalah kita memahami dengan baik mengapa kita memilih Islam sebagai agama dan jalan hidup. Dengan afiliasi, manusia diharapkan
mempunyai kecenderungan terhadap sesuatu, yaitu wilayah nilai Islam sehingga dapat menjadi pribadi yang saleh. Saleh secara pribadi dapat dibentuk melalui komitmen terhadap akidah, metodologi, dan sikap/akhlak. Setelah dapat saleh secara pribadi, Anis Matta memberikan kualifikasi partisipasi. Dalam hal ini, manusia dapat mensalehkan orang lain karena dia sudah bisa mensalehkan pribadinya. Kualifikasi yang terakhir adalah konstribusi, yaitu manusia Muslim abad ke-21 haruslah mempunyai spesialisasi dalam satu bidang keilmuan/profesi. Spesialisasi yang diusulkan Anis Matta adalah spesialisasi dalam pemikiran, kepemimpinan, profesional, dan keuangan.
             Selanjutnya dalam buku ini diungkapkan bahwa untuk menjadi manusia abad ke-21 kita perlu memiliki konsep diri yang jelas. Sehingga kita akan mempunyai orientasi yang jelas dalam melakukan pengembangan diri. Dalam pengenalan diri ini, Anis Matta mengambil ungkapan Ibnu Qoyyim bahwa untuk mengenal diri diperlukan pengetahuan tentang Ma’rifatulläh dan Ma’rifatunnäs (hlm. 21). Dengan kedua pengetahuan ini manusia mempunyai orientasi/tujuan hidup, dan mengetahui cara mencapainya. Tingkatan konsep diri yang ditawarkan oleh Anis, yang pernah mengikuti pendidikan di Lemhanas ini, adalah aku diri (di sini manusia memandang dirinya apa adanya seperti yang dia pahami); aku sosial (pada tingkatan ini manusia adalah sesuai anggapan orang lain); dan aku ideal (yaitu tingkatan dimana manusia pada kondisi seperti yang dia inginkan).
           Untuk menjadi manusia Muslim abad ke-21 --yang secara otomatis telah melalui ‘seleksi alam’-- kita perlu merencanakan pengembangan diri. Sehingga tantangantantangan dakwah sekeras dan seberat apa pun dapat diatasi. Berbekal pemahaman akan diri dengan berlandaskan pada pemahaman syari’at akan melahirkan kemampuan untuk mengembangkan diri secara optimal. Anis Matta mengambil Qur’an surat Al Hasyr ayat 1, yang didefinisikannya sebagai perintah untuk merencanakan hari esok yang diiringi dengan ketakwaan, sebagai landasan syar’i untuk melakukan pengembangan diri. Anis menafsirkan ayat ini lewat ungkapannya, ”Ekspresi yang paling kuat dari bertakwa adalah merencanakan pengembangan diri kita” (hlm. 36). Anis juga merujuk Shirah Nabawiyyah untuk semakin memperjelas pembahasan mengenai bab ini.
Analisis SWOT yang biasa digunakan pelaku manajemen diulas juga oleh Anis Matta untuk membuat SWOT pribadi. Banyak contoh yang ditulis dalam buku ini bertujuan agar pembaca lebih paham dan dapat langsung mengaplikasikan ulasannya.
            Dengan analisis SWOT, pribadi Muslim akan mengetahui titik kekuatan dan kelemahan sekaligus peluang untuk diambil dan ancaman yang harus diantisipasi. Hal yang cukup berpengaruh dalam proses pengembangan diri adalah adanya motivasi dan kemauan untuk menujunya. Anis Matta mendefinisikan kemauan sebagai tenaga jiwa, sehingga untuk membangun kemauan kita ‘hanya’ butuh manajemen tenaga. Manajemen itu meliputi bagaimana kita dapat mengumpulkan tenaga, menggunakannya dan mengembalikan tenaga yang telah dimanfaatkan sebelumnya sehingga kita dapat mengantisipasi hadirnya kejenuhan. Proses pengembangan diri berlanjut pada mengembangkan kemampuan berpikir. Dalam salah satu paragraf pada bagian ini, Anis mengibaratkan sebagai berikut :
     “Pikiran itu seperti tanah. Bibit yang Anda tanam didalamnya adalah motivasi. Yang tumbuh dari bibit tersebut adalah perilaku. Anda tidak dapat sembarangan menanam bibit pada sembarang tanah. Anda harus mengapling terlebih dahulu tanahnya dan mengetahui tanaman yang cocok untuk pikiran seperti ini.” (hlm 91)
Kemampuan berpikir merupakan salah satu dari nilai-nilai dasar untuk menjadi orang multidimensi di samping mentalitas yang luar biasa, karakter yang seimbang, dan kondisi fisik yang mendukung. Dengan mengembangkan kemampuan berpikir, manusia dapat hidup di mana-mana, terlepas dia sebagai mahasiswa, pengusaha, atau bagian dari masyarakat. Pengetahuan tentang otak juga dipaparkan dalam buku ini, mulai dari fungsi otak, pembagian otak, sel pembentuk otak, hingga pertanyaan mengenai letak akal. Penjelasan yang lebih lengkap lagi mencakup langkah pengembangan kemampuan berpikir dan bagaimana cara mengubah diri dan orang lain.
        Pada akhir tulisannya, Anis Matta memberikan tips yang bermuatan dua belas kebiasaan produktif dalam hidup. Satu di antaranya adalah membiasakan lebih banyak berdiam dan mendengar daripada bicara. Secara keseluruhan buku ini mempunyai sisi kelebihan, yaitu pertama, sarat dengan tindakan aplikatif dengan menyediakan form untuk dapat diisi oleh pembaca sesuai dengan pokok bahasan dan disertai petunjuk pengisian. Dengan demikian pembaca tidak sekedar membaca pasif namun juga bisa langsung mempraktekkan apa yang telah dibacanya. Kedua, wawasan yang luas dari penulis membuat buku ini semakin sarat muatan hal-hal baru yang mungkin tidak terpikirkan sebelum membaca buku ini. Ketiga, karena merupakan kumpulan ceramah, buku ini seolah-olah mengajak berbicara kepada pembaca sehingga suasana dapat benar-benar hidup. Keempat, dengan disertakan landasan syar’i secara Islam, memperkuat proses penerimaan materi yang disampaikan. Namun selain kelebihan, buku ini memiliki kekurangan, yakni dalam gaya bahasa, yang terkadang menggunakan diksi agak ilmiah, sehingga membuat buku sulit dipahami oleh pembacapembaca pemula.

Book Review Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004
Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär
3

Minggu, 28 Juli 2013

Segmentasi masyarakat dan Orientasi Negara



Segmentasi masyarakat Orientasi Negara
Oleh :  Jihad Mustofa

                Dewasa ini masyakat indonesia telah banyak yang tersegmentasi oleh berbagai paham dan ideologi, mulai dari yang menamakan berideologi agamis sampai ke yang menganut paham atheis pun.
            Sekarang kita akan lebih fokus kepada pembahasan tentang segmentasi masyarakat indonesia, yang sama- sama kita ketahui ada sangat banyak sekali ideologi seperti yang sudah saya jelaskan diawal tadi. Berbicara masalah ideologi maka kita bicara masalah semangat apa yang melatar belakangi dari sebuah gerakan tersebut yang pada akhirnya nanti akan berujung kepada apa mereka mengajak para pengikutnya untuk berjalan.
            Sedini mungkin, ada tiga ideologi besar yang telah mensegmentasikan masyarakat indonesia. kita sebut paham ( poros ) kiri, paham (poros ) Kanan, dan yang terakhir adalah poros tengah.
            Kita akan mencoba sama- sama menggali apa itu ke tiga paham tersebut, bagaimana cara geraknya dan kepada apa mereka akan membawa kita. Yang pertama kita akan mengupas tentang poros kiri, kalau kita menilik dari sejarah kemerdekaan indonesia, maka disinilah terjadi adu argumentasi yang begitu sengit anatara ketiga poros ini. Ketika para pemuda sepakat bahwa kemerdekaan indonesia apda tanggal 17 agustus 1945, maka setelah kemerdekaan itu para petinggi bangsa ini merumuskan dasar dan arah negara yang baru saja dilahirkan. Poros kiri yang dimotori oleh soekarno dkk, kurang sepakat dengat draft pancasila yang diajukan sebagai dasar negara , dimana pada sila pertama ada beberapa kata yang dihapuskan “menjalankan syariat islam bagi pemeluknya”, mereka beralasan bahwa negara kita tidak akan mampu oleh hanya mengandalkan satu golongan saja. Nah yang ke dua adalah poros kanan mereka beranggapan bahwa negara kita harus berdasakan syariat islam sepaerti tercantum dalam draft awal sila ke satu, mereka menyakini bahawa kemerdekaan ini adalah karena perjuangan umat islan yang telah menumpahkan darahnya dimedan perang, jadi selayaknyalah islam menjadi ideologi negara, mereka tidak sepakat dengan semua sehingga mereka keluar dan nantinya inilah yang menjadi akar lahirnya DI,TII, SDI. Kemudian paham yang terakhir adalah poros tengah, poros ini berpendapat bahawa draft pancasila yang ada tidaklah bertentangan dengan al Quranul karim , seperti yang tercamtum pada sila yan g petama, pada sila kesatu interpresatasinya adalah keesaan Allah, sebagaimna yang terdapat pada surah al-ikhlas ayat Satu “katakanlah bahwa Allah itu satu” , begitupn juga dengan sila yang lainnya, dengan alasan inilah poros tengah beranggapan bahwa pancasila tidak bertentangan dengan Alqur’an.
            Itulah sedikit gambaran tentang segmen pemikiran masyarakat indonesia, sesungguhnya perbedaan inilah sebuah anugrah yang harus sama- sama kita syukuri sehingga kita akan saling melengkapi satu dengan yang lainny, sesungguhnya perbedaan tidak akan pernah menemukan titik temu, tetapi yang terpenting adalah kita semua adalah manusia yang saliang membutuhkan. Pelangi tidak akan indah ketika hanya ada satu warna, dunia takkan indah ketika berwarna putih tapi membutuhkan banyak warna sehingga nampaklah harmonisasi yang saling beringan.